Atase Perhubungan KL

PROFIL TRANSPORTASI MALAYSIA

Beranda > Profil Transportasi Malaysia

PROFIL NEGARA MALAYSIA

Negara Tetangga dengan Keanekaragaman Budaya dan Sejarah yang Kaya

Kami bermitra dengan berbagai pihak di Malaysia untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi sistem transportasi. Melalui beragam program dan proyek kolaboratif, kami berkomitmen menghadirkan solusi transportasi yang inovatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Malaysia adalah sebuah negara persekutuan yang terdiri atas dua wilayah utama Malaysia Barat yang terletak di Semenanjung Malaysia, dan Malaysia Timur yang berada di Pulau Borneo. Kuala Lumpur berperan sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan, sementara Putrajaya menjadi pusat pemerintahan. Malaysia meraih kemerdekaannya pada 31 Agustus 1957, menandai awal perjalanan sebagai bangsa yang mandiri dan dinamis.

Malaysia menganut sistem pemerintahan parlementer dengan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Saat ini, jabatan tersebut diemban oleh Dato’ Sri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri ke-10. Negara ini terdiri atas 13 negara bagian dan 3 wilayah persekutuan, yang masing-masing dipimpin oleh Sultan, Raja, atau Ketua Menteri/Gubernur, sesuai dengan struktur pemerintahan di wilayahnya.

Secara geografis, Malaysia terletak di antara 1°LU – 7°LU dan 100°BT – 119°BT, dengan luas wilayah sekitar 329.847 km², menjadikannya negara terbesar kelima di ASEAN. Dengan populasi sekitar 32,7 juta jiwa, Malaysia menempati posisi keenam terpadat di kawasan ASEAN. Penduduknya terdiri atas tiga kelompok etnis utama: Melayu, Tionghoa, dan India, yang bersama-sama membentuk keberagaman budaya dan identitas nasional Malaysia.

Sebagai negara yang terus berkembang, Malaysia tidak hanya berfokus pada pengelolaan kekayaan alam dan pelestarian keberagaman budayanya, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur dan pengembangan sistem pengangkutan yang modern dan berdaya saing.

Peran dan Tanggung Jawab Kementerian Pengangkutan Malaysia
Ministry of Transport Malaysia (MOT) merupakan kementerian di bawah Kerajaan Malaysia yang bertanggung jawab untuk merancang, membangun, serta mengawasi sistem pengangkutan nasional. MOT berperan penting dalam memastikan bahwa setiap sektor pengangkutan di Malaysia beroperasi dengan prinsip keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan, guna memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi negara.

Malaysia memiliki lokasi yang strategis di jantung Asia Tenggara, menjadikannya penghubung utama jalur perdagangan maritim global. Didukung oleh jaringan infrastruktur yang baik yang terdiri atas jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, dan lapangan terbang, Malaysia mampu meningkatkan mobilitas penduduk dan memperkuat perannya sebagai pusat logistik serta perdagangan regional.

Dalam menghadapi tantangan global dan dinamika ekonomi modern, MOT terus berkomitmen untuk meningkatkan konektivitas, efisiensi, dan daya saing sistem pengangkutan Malaysia. Langkah ini diharapkan dapat memastikan bahwa sektor transportasi nasional tetap menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi dan integrasi kawasan di masa depan.

Transportasi Darat di Malaysia
Transportasi darat merupakan sarana utama mobilitas harian masyarakat Malaysia, berperan penting dalam menghubungkan berbagai wilayah dan mendukung aktivitas ekonomi nasional. Seiring dengan pertumbuhan populasi dan kemajuan infrastruktur, jumlah kendaraan bermotor terus meningkat setiap tahun, mencerminkan ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap kendaraan pribadi.

Selain kendaraan pribadi, kendaraan umum dan kendaraan barang juga memegang peranan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat serta kelancaran kegiatan logistik di seluruh negeri.

Pendaftaran Kendaraan Bermotor di Malaysia (2024)
Pada tahun 2024, terjadi peningkatan jumlah pendaftaran kendaraan baru sebesar 2,4% dibandingkan tahun sebelumnya — dari 1,5 juta unit pada 2023 menjadi 1,6 juta unit pada 2024.

Salah satu tren yang paling menonjol adalah pertumbuhan signifikan pada kendaraan elektrik (EV), yang meningkat sekitar 78,9%, dari 15.699 unit (2023) menjadi 28.036 unit (2024). Kenaikan ini mencerminkan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap transportasi ramah lingkungan serta dukungan kebijakan pemerintah terhadap mobilitas hijau.

Adapun komposisi utama pendaftaran kendaraan bermotor baru pada tahun 2024 adalah sebagai berikut:
– Mobil penumpang: 847.110 unit
– Sepeda motor: 655.823 unit
– Kendaraan barang: 39.822 unit
– Kereta sewa & pandu sendiri: 6.685 unit

Secara keseluruhan, total pendaftaran kendaraan bermotor pada tahun 2024 mencapai sekitar 1,6 juta unit, menandakan pertumbuhan sektor transportasi darat yang tetap dinamis seiring dengan meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi nasional.

Kendaraan Umum dan Barang
Selain kendaraan pribadi dan transportasi rel, bus umum serta kendaraan barang tetap memegang peranan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi logistik nasional.

Pada tahun 2024, jumlah bus umum mengalami peningkatan signifikan, dari 48.101 unit (2023) menjadi 69.508 unit (2024). Kenaikan ini mencerminkan upaya berkelanjutan pemerintah dan sektor swasta dalam memperkuat layanan transportasi publik yang efisien dan terjangkau.

Sebaliknya, jumlah taksi tercatat mengalami penurunan cukup tajam, dari 77.903 unit (2023) menjadi 65.360 unit (2024). Tren penurunan ini terutama disebabkan oleh pergeseran preferensi masyarakat terhadap layanan e-hailing, yang kini semakin mendominasi sektor transportasi perkotaan.

Transportasi Rel di Malaysia
Transportasi rel merupakan tulang punggung mobilitas perkotaan di Malaysia, dengan jumlah pengguna yang terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2023, jumlah pengguna transportasi rel tercatat sebanyak 272,1 juta orang, dan meningkat signifikan menjadi 336,7 juta orang pada tahun 2024. Kenaikan ini mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi publik yang efisien dan terjangkau.

Peningkatan jumlah pengguna tersebut didukung oleh beragam jaringan layanan rel, antara lain:
– LRT Laluan Kelana Jaya
– LRT Laluan Ampang
– KL Monorel
– KLIA Transit
– ETS (Electric Train Service)
– MRT Laluan Kajang
– MRT Laluan Putrajaya
– KTM Komuter
– KTM Antarabandar
– KLIA Ekspres

Transportasi Laut di Malaysia
Pelabuhan memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Malaysia, terutama sebagai pintu gerbang perdagangan internasional dan penghubung utama dalam rantai pasok global. Sebagai negara maritim dengan posisi geografis yang strategis, Malaysia memiliki sejumlah pelabuhan utama yang tidak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga berfungsi sebagai pusat logistik dan transshipment bagi kawasan Asia Tenggara.

Perkembangan pelabuhan dari tahun ke tahun mencerminkan dinamika perdagangan global, peningkatan investasi infrastruktur, serta komitmen pemerintah dalam memperkuat efisiensi operasional dan daya saing nasional.

Malaysia saat ini memiliki tujuh pelabuhan utama yang tersebar di seluruh wilayah, disertai sejumlah pelabuhan lokal yang dikelola oleh pemerintah negeri, khususnya di Sabah dan Sarawak. Pelabuhan-pelabuhan utama tersebut meliputi:
– Pelabuhan Klang (Port Klang) merupakan pelabuhan tersibuk dan pusat utama perdagangan maritim Malaysia.
– Pelabuhan Tanjung Pelepas (PTP), menjadi hub transshipment internasional dengan kapasitas bongkar muat besar.
– Pelabuhan Penang (Penang Port), melayani sektor perdagangan dan pariwisata di wilayah utara Semenanjung.
– Pelabuhan Kuantan (Kuantan Port), merupakan gerbang perdagangan di Pantai Timur, berperan penting dalam ekspor komoditas dan industri berat.
– Pelabuhan Bintulu (Bintulu Port) merupakan pusat ekspor LNG terbesar Malaysia dan salah satu yang terpenting di Sarawak.
– Pelabuhan Kota Kinabalu (Kota Kinabalu Port) yang mendukung aktivitas perdagangan dan logistik di Sabah.
– Pelabuhan Johor (Johor Port) yang melayani perdagangan industri dan kontainer di wilayah selatan Malaysia.

Secara keseluruhan, pelabuhan Malaysia terus menunjukkan pertumbuhan yang stabil, didorong oleh modernisasi fasilitas, digitalisasi operasional, dan integrasi jaringan logistik nasional. Upaya ini bertujuan untuk menjadikan Malaysia sebagai pusat maritim dan logistik terkemuka di Asia Tenggara.

Kinerja Pelabuhan di Malaysia
Selain berperan strategis dalam mendukung perdagangan dan logistik nasional, kinerja pelabuhan Malaysia juga tercermin dari jumlah kapal dan volume kargo yang ditangani di berbagai pelabuhan utama. Data berikut menunjukkan performa pelabuhan Malaysia selama tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2024, total kargo yang ditangani melalui pelabuhan-pelabuhan di Malaysia mencapai 583,7 juta FWT, atau menurun tipis sebesar 0,5% dibandingkan tahun 2023 yang mencatat 586,6 juta FWT dengan rincian sebagai berikut:
– Ekspor: 161,3 juta FWT
– Impor: 170,4 juta FWT
– Pindah kapal (transshipment): 251,9 juta FWT

Pelabuhan dengan volume kargo tertinggi pada tahun 2024 adalah:
– Pelabuhan Klang: 248,6 juta FWT
– Pelabuhan Tanjung Pelepas (PTP):135,4 juta FWT
– Pelabuhan Bintulu: 45,3 juta FWT
– Pelabuhan Pulau Pinang: 32,3 juta FWT

Pengelolaan kontainer mencatat pertumbuhan positif pada tahun 2024, dengan total 30,8 juta TEU, meningkat 9,0% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 28,2 juta TEU dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
– Ekspor: 5,7 juta TEU
– Impor: 5,4 juta TEU
– Pindah kapal (transshipment): 19,7 juta TEU

Pelabuhan dengan volume kontainer tertinggi pada tahun 2024 adalah:
– Pelabuhan Klang: 14,6 juta TEU
– Pelabuhan Tanjung Pelepas (PTP): 12,3 juta TEU
– Pelabuhan Pulau Pinang: 1,4 juta TEU
– Pelabuhan Johor: 1,1 juta TEU

Secara keseluruhan, kinerja pelabuhan Malaysia menunjukkan stabilitas dan ketahanan yang kuat di tengah fluktuasi perdagangan global. Peningkatan pada kontainer dan efisiensi operasional di pelabuhan utama menjadi indikator positif terhadap daya saing logistik maritim Malaysia di kawasan Asia Tenggara.

Perkembangan Terbaru Sektor Pelabuhan
Perkembangan signifikan di bidang pelabuhan Malaysia ditandai dengan dimulainya proyek pembangunan Westports 2, yang diresmikan melalui upacara peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato’ Sri Anwar Ibrahim. Proyek strategis ini mencakup pengembangan terminal peti kemas (Container Terminal/CT) dari CT10 hingga CT17, dengan tujuan meningkatkan kapasitas penanganan kontainer Westports dari 14 juta TEU (Twenty-foot Equivalent Unit) menjadi 27 juta TEU.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan akan memperkuat daya saing Pelabuhan Klang di tingkat global, menarik lebih banyak investasi asing, serta mendorong terciptanya lapangan kerja baru di sektor logistik dan pelabuhan.

Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, Westports 2 mencerminkan komitmen kuat Pemerintah Malaysia dalam memperkuat jaringan logistik nasional dan meningkatkan konektivitas maritim. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Malaysia untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menjadikan Pelabuhan Klang salah satu hub logistik terkemuka dunia.

Inisiatif Pembukaan Rute Pelayaran dan Penguatan Konektivitas Laut
Pada tahun 2024, berbagai inisiatif telah dijalankan untuk meningkatkan konektivitas maritim dan efisiensi logistik melalui pembukaan rute pelayaran baru serta penguatan kerja sama bilateral dan regional. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen Malaysia dan Indonesia dalam memperkuat integrasi kawasan serta memperlancar arus barang dan penumpang antarnegara.

  • Rute Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) Dumai-Melaka
    Rencana pembukaan rute Ro-Ro Dumai-Melaka telah menjadi agenda penting selama lebih dari satu dekade, sebagai salah satu proyek prioritas dalam Master Plan on ASEAN Connectivity dan Brunei Action Plan. Perkembangan signifikan terjadi pada tahun 2024 dengan selesainya pembangunan dan serah terima terminal penumpang Pelabuhan Bandar Sri Junjungan (BSJ), Dumai dari kontraktor kepada Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) pada 12 September 2024.

    Pelabuhan BSJ telah ditetapkan sebagai pintu masuk dan keluar internasional bagi penumpang dan kendaraan kapal Ro-Ro. Dengan luas area 11.554 m², pelabuhan ini memiliki dermaga sepanjang 63 meter, movable bridge, serta dilengkapi dengan 3 mooring dolphin dan 3 breasting dolphin. Kedalaman kolam mencapai -7 meter LWS, mampu melayani kapal hingga 1.000 GT dengan bukaan haluan dan buritan (stern/bow ramp door)

    Selain infrastruktur utama, Pelabuhan BSJ juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, jembatan timbang, terminal penumpang dua lantai, area check-in dan tiket, ruang layanan kesehatan dan karantina, musholla, serta fasilitas ramah difabel. Pada The 30th IMT-GT Ministerial Meeting, Indonesia mengusulkan pembentukan task force bilateral khusus untuk membahas lebih lanjut persiapan pembukaan rute Dumai–Melaka serta penyusunan draft Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya tertunda sejak 2018.

  • Rute Johor Bahru-Batam
    Inisiasi pembukaan rute pelayaran Johor Baru-Batam juga menunjukkan perkembangan positif. Gagasan ini diajukan oleh Lembaga Pelabuhan Johor (LPJ) melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru. Atase Perhubungan menghadiri rapat koordinasi di Batam bersama berbagai pemangku kepentingan untuk membahas kelayakan dan kesiapan operasional.

    LPJ bekerja sama dengan Southern Reef Sdn. Bhd, operator Terminal Feri Tanjung Belungkar (Johor Bahru), yang direncanakan menjadi pelabuhan asal rute ini. Sementara di sisi Indonesia, telah diidentifikasi Terminal Feri Bintang 99 Persada serta PT ASDP Indonesia Ferry sebagai operator pelabuhan tujuan.

    Sebagai tindak lanjut, BP Batam ditugaskan untuk menyusun studi kelayakan (feasibility study) dan menyampaikan hasilnya untuk dibahas bersama Inter-Kementerian serta para stakeholder terkait. Selain itu, telah diusulkan agar pembahasan MoU dilakukan secara paralel, mencakup penetapan standar teknis kendaraan dan kapal yang akan beroperasi di kedua negara.

Inisiatif Pembukaan Rute Pelayaran Baru
Sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas maritim dan kerja sama lintas batas antara Indonesia dan Malaysia, beberapa inisiatif pembukaan rute pelayaran baru telah dikembangkan sepanjang tahun 2024. Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung peningkatan aktivitas ekonomi, pariwisata, dan sosial budaya di kawasan perbatasan kedua negara.

  • Rute Johor Bahru-Lagoi Bintan
    Inisiasi pembukaan rute pelayaran penumpang Johor Bahru-Lagoi Bintan mencapai kemajuan penting dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 3 Oktober 2024. Penandatanganan dilakukan antara Pasir Gudang Ferry Terminal (Malaysia), PT Cakrawala Bintan Resort, dan PT International Golden Shipping (Indonesia). Acara ini disaksikan oleh YB Khairul Firdaus Akbar Khan, Wakil Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Malaysia, serta dihadiri oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru.

    Penandatanganan berlangsung bersamaan dengan kegiatan International Tourism and Cultures Exhibition (INTAC) di Kuala Lumpur.
    Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, pada 2 November 2024 telah dilakukan uji coba perdana rute Johor Bahru – Lagoi Bintan, yang bertepatan dengan pelaksanaan Mandiri Bintan Marathon, salah satu event internasional pariwisata unggulan di kawasan Lagoi, Bintan.

  • Rute Pulau Tioman-Kepulauan Anambas
    Usulan pembukaan rute pelayaran Pulau Tioman (Pahang, Malaysia)-Kepulauan Anambas (Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia) diajukan oleh otoritas pelayaran Pahang sebagai bagian dari inisiatif memperkuat kerja sama ekonomi, pariwisata, sosial, dan budaya di kawasan tersebut.

    Rute ini dinilai memiliki potensi besar untuk menghubungkan dua destinasi wisata bahari unggulan di Asia Tenggara, sekaligus membuka peluang investasi sektor pariwisata dan logistik. Pada 9 Oktober 2024, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru telah melakukan pertemuan dengan Ketua Tim Studi Kelayakan dari Universitas Malaysia Pahang (UMP). Studi kelayakan tersebut saat ini masih dalam proses penyusunan dan akan disampaikan kepada Inter-Kementerian serta pemangku kepentingan (stakeholders) kedua negara untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.

  • Rute Roll-on/Roll-of (Ro-Ro) Aceh-Penang
    Inisiasi pembukaan rute pelayaran Aceh–Penang menunjukkan langkah strategis dalam memperkuat konektivitas ekonomi dan pariwisata antara Indonesia dan Malaysia. Rute yang direncanakan mulai beroperasi pada akhir Oktober 2025 ini akan menghubungkan Pelabuhan Krueng Geukueh di Aceh Utara dengan Pelabuhan Penang di Malaysia. Pemerintah Aceh bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Imigrasi, Karantina, dan otoritas pelabuhan, tengah memfinalisasi persiapan fasilitas pendukung seperti terminal penumpang, area bongkar muat, dan sistem pelayanan lintas negara.

    Kehadiran rute ini diharapkan menjadi gerbang ekonomi baru bagi Aceh dengan membuka akses ekspor langsung dan menekan biaya logistik, terutama melalui penggunaan kapal ro-ro (roll-on/roll-off) yang mampu mengangkut penumpang sekaligus kendaraan dan barang dagangan.

    Pemerintah Aceh juga telah menggelar rapat koordinasi lintas instansi untuk memastikan kesiapan operasional, termasuk penyusunan standar pelayanan dan prosedur kepabeanan. Dengan dukungan kuat dari kedua negara, pelayaran Aceh–Penang diharapkan menjadi simbol kebangkitan ekonomi maritim Aceh serta mempererat hubungan perdagangan dan sosial antara masyarakat di kedua wilayah.

Penumpang Pesawat Udara di Malaysia
Pada tahun 2024, jumlah penumpang udara di Malaysia mencapai 97,1 juta orang, meningkat 14,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total tersebut, sebanyak 46,9 juta penumpang merupakan penumpang domestik, sementara 50,2 juta penumpang merupakan penumpang internasional.

Secara regional, Semenanjung Malaysia mencatat jumlah penumpang tertinggi dengan 75,5 juta orang, diikuti oleh Sabah sebanyak 11,6 juta orang, dan Sarawak sebanyak 10,1 juta orang. Meskipun angka di Sarawak sedikit menurun dibandingkan tahun 2023, secara keseluruhan tren perjalanan udara di Malaysia menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan yang konsisten, didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, pariwisata, serta konektivitas antarwilayah.

Kargo Udara di Malaysia
Sektor kargo udara Malaysia mencatat pertumbuhan positif pada tahun 2024, dengan total 1,1 juta metrik ton kargo diangkut, jumlah ini meningkat 15,5% dibandingkan tahun 2023 yaitu 928.933 metrik ton. Dari total tersebut, sebanyak 256.129 metrik ton merupakan kargo domestik, sedangkan 816.952 metrik ton merupakan kargo internasional.

Berdasarkan Wilayah
Semenanjung Malaysia mencatat volume terbesar, yaitu 936.906 metrik ton pada 2024, meningkat dari 795.806 metrik ton pada 2023.
Sabah mencatat 73.506 metrik ton, sedikit menurun dari 78.455 metrik ton pada tahun sebelumnya.
Sarawak menunjukkan kenaikan signifikan, dari 54.671 metrik ton (2023) menjadi 62.669 metrik ton (2024).

Pertumbuhan ini menegaskan peran strategis sektor kargo udara dalam mendukung perdagangan, logistik, dan rantai pasok internasional Malaysia.

Pengembangan Infrastruktur MRO
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem penerbangan nasional, Asia Digital Engineering (ADE) baru-baru ini meluncurkan hanggar MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) terbaru dengan kapasitas 14 lini perawatan menjadikannya fasilitas MRO terbesar dan tercanggih di Malaysia. ADE MRO dibangun di atas lahan seluas 20,25 hektar di kawasan KLIA Aeronautical Support Zone 1 (ASZ 1), dengan luas bangunan lebih dari 380.000 kaki persegi. Fasilitas ini dilengkapi dengan berbagai bengkel khusus, antara lain Bengkel komposit, Bengkel logam dan mesin, Bengkel pelapis dan perbaikan interior kabin, Bengkel oven dan boiler, serta Laboratorium pencetakan 3D untuk pembuatan corak pesawat. Hanggar ini memiliki pusat pengembangan produk digital, yang semakin memperkuat posisi ADE sebagai salah satu penyedia layanan MRO paling lengkap dan maju di kawasan ASEAN.

Inisiasi Pembukaan Rute Penerbangan Baru
Sebagai upaya memperkuat konektivitas udara antara Malaysia dan Indonesia bagian timur, saat ini tengah dilakukan inisiasi pembukaan rute penerbangan dari Kuala Lumpur International Airport (KUL) menuju sejumlah kota di Pulau Sulawesi, antara lain Halu Oleo Airport (HLO) di Kendari, Mutiara Sis Al-Jufri Airport (PLW) di Palu danMaleo Morowali Airport (MOH) di Morowali.
Inisiatif pembukaan rute ini masih berada pada tahap pengumpulan data dan kajian awal, dengan tujuan untuk mendukung peningkatan konektivitas, perdagangan, dan pariwisata antara kedua negara.

KLIA Aerotrain Kembali Beroperasi
Setelah hampir dua tahun dihentikan, layanan Aerotrain di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) kembali beroperasi pada 1 Juli 2025. Layanan ini menghubungkan Terminal 1 dengan gedung satelit, yang sebelumnya tidak beroperasi sejak Maret 2023 akibat insiden teknis.

Proyek pembaruan Aerotrain ini menelan biaya sekitar RM456 juta, sebagai bagian dari inisiatif transformasi KLIA senilai RM742 juta yang dikelola oleh Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB). Tujuan utama proyek ini adalah untuk meningkatkan kapasitas, efisiensi, dan kenyamanan penumpang, seiring dengan proyeksi pertumbuhan lalu lintas udara dalam beberapa tahun ke depan.

Aerotrain terbaru kini menggunakan rangkaian kereta Alstom Innovia APM 300R, yang terdiri atas tiga gerbong dengan kapasitas hingga 270 penumpang per perjalanan. Kereta ini memiliki kecepatan maksimum 56 km/jam, dengan waktu tempuh antar terminal kurang dari 3 menit. Sistem terbaru ini juga dilengkapi dengan teknologi pemantauan kondisi canggih, guna meminimalkan gangguan layanan serta meningkatkan efisiensi operasional.

Kembalinya Aerotrain menjadi langkah penting dalam modernisasi infrastruktur transportasi di KLIA, sekaligus memperkuat posisi Malaysia sebagai salah satu hub penerbangan utama di kawasan Asia Tenggara.